Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Bermain Perahu Kano di Stikosa AWS

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) kembali memberikan suguhan fasilitas unik nan menarik. Senin (18/10) para mahasiswa yang tergabung dalam UKM Pencinta Alam PRAPALA Stikosa AWS, menunjukkan kepiawaiaannya dalam mengoprasikan perahu kano, perahu kano berukuran 2,5 Meter tersebut digunakan untuk mengarungi Danau yang berada tepat di depan Stikosa AWS. Aksi tersebut mendapat animo yang cukup besar dari para mahasiswa.
Suasana siang yang sejuk dibalut dengan awan mendung seolah menjadi komposisi pemandangan yang menyejukkan mata. Meskipun banyak tanaman teratai yang memenuhi lokasi dimana para mahasiswa pencinta alam tersebut memainkan perahu kano, tetapi tak menyulutkan sedikitpun semangat para mahasiswa pencinta alam ini untuk tetap memainkan perahu kanonya.

Minggu, 26 September 2010

Sehat dengan Terapi Batu Refleksi

Di tahun 2010 ini, berbagai taman banyak tersebar di Surabaya. Salah satunya adalah taman Lansia. Taman yang terletak di Jl. Biliton Surabaya ini, mempunyai keunikan dibanding taman-taman lainnya. Pasalnya, di taman ini selain menyuguhkan pemandangan dan suasana taman yang indah, juga terdapat batu-batu refleksi yang mengitari taman.

Batu refleksi tersebut, dipercaya oleh sebagian masyarakat berguna untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Biasanya, para pengunjung taman lansia ini melepas alas kakinya terlebih dahulu, kemudian dengan perlahan memasukkan kakinya ke dalam batu refleksi tersebut.

Rabu, 15 September 2010

Jasa Pelukis Jalanan di Area Apotik Simpang

Bagi masyarakat pada umumnya, untuk mengabadikan wajah seseorang, biasanya menggunakan media kamera. Akan tetapi ada cara lain untuk mengabadikan wajah seseorang dengan menggunakan mediasi kertas serta goresan pensil dengan sedikit sentuhan sense of art oleh sang pelukis.

Apabila sobat muda melintas di Jl. Gubernur Suryo tepatnya di persimpangan Apotik Simpang tersebut, sobat muda akan melihat para seniman karikatur jalanan yang membuka jasa melukis portrait wajah. Di area tersebut saat ini dapat dijumpai sedikitnya lima seniman yang mengais rezeki dengan melukis portrait wajah.

Jumat, 27 Agustus 2010

Mancing Sambil Ngabuburit

Banyak hal bisa dilakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa. Mencari aktivitas dan menyibukkan diri merupakan suatu hal yang biasa dilakukan masyarakat Surabaya ketika menunggu waktu berbuka puasa. Salah satu kegiatan yang menjadi kegemaran saat ngabuburit adalah memancing. Memancing kebanyakan dilakukan oleh kaum Adam. Kegiatan ini notabene dapat menjadi suatu alternatif dalam menghilangkan stres.

Di Surabaya, berbagai kalangan masyarakat yang punya hobi memancing, biasa terlihat di anak sungai Jagir (samping gedung pusat kebudayaan Prancis/CCCL). Dengan hanya membawa umpan tumbuhan lumut yang dibeli seharga 2000 rupiah, mereka dapat merefresh pikiran sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba.

“Meskipun tidak bulan puasa, pada hari-hari biasa pun saya selalu mancing di sini. Kebetulan saat ini bulan puasa, saya datangnya lebih awal dan berharap sore nanti kail saya dapat menarik ikan sebanyak-banyaknya untuk menu berbuka puasa”. papar Soemitro, salah satu pemancing yang saat itu ditemui tim liputan Surabayamuda.com di sela-sela kegiatan memancingnya.

Lokasi pemancingan ini meskipun terlihat kumuh dan kotor, tidak pernah sepi dari pemancing. Pasalnya, tempat ini dinilai para pemancing sebagai sarang ikan atau tempat di mana ikan itu banyak didapatkan dengan mudah oleh para pemancing yang memancing di lokasi tersebut.

Soemitro menambahkan, “Sepertinya memang ikan di sini sudah habis, karena setiap hari selalu dipancing oleh orang-orang Surabaya. Dari tadi hingga sekarang, saya baru mendapat dua ikan, itu pun ikan mujair”.

“Di tempat ini, banyak juga yang mendapat ikan gabus dengan ukuran yang sangat besar. Sampai sekarang kail saya belum pernah mendapat ikan gabus seperti yang dibilang orang-orang. Hal itulah yang masih memancing rasa penasaran saya untuk memancing di tempat ini”,pungkasnya. (Naskah : Krisna Fajar P. / Foto : Andy Sam)

Selasa, 06 Juli 2010

Gelitik Aksesoris berbahan dasar Kulit

Tanggulangin merupakan salah satu daerah yang terkenal akan centra kerajinan tangan / handycraft yang menjadi pendomplang pundi-pundi perekonomian kota Sidoarjo.

Tas, dompet, jaket, sandal, dan ikat pinggang yang terbuat dari kulit hewan mulai dari sapi, domba, dan hewan melata pun, banyak terdapat di lokasi tersebut. Salah satunya adalah Permata Tanggulangin Collection. Ruko yang berada di Komplek Pertokoan Permata Sidoarjo Blok R3 No.46-52, menyediakan banyak varian produk-produk kebutuhan wanita mulai dari tas remaja, anak ABG, ikat pinggang, sandal, dompet, dll.

Permata Tanggulangin Collection juga sangat memanjakan para pelanggan setianya. ''Dalam hal fasilitas, kami cukup memanjakan para pelanggan dengan menyediakan lahan parkir yang sangat luas, kira-kira cukup untuk 72 bus. Selain itu, tepat di sebelah ruko kami juga terdapat kolam renang.'' ungkap H.Nuryono selaku pemilik dan pengelola Permata Tanggulangin Collection.

Menurut H.Nur, ''Arti permata pada nama brand Permata Tanggulangin Collection ini, mempunyai filosofi mudah dikenang''. Menurutnya, setelah berkunjung ke gerainya, maka para pelanggan tersebut, akan selalu ingat dan ingin kembali lagi.

Pertama masuk, mata kita disambut oleh tata ruang yang benuansa elegan dipadu dengan kilau lampu kuning yang mengesankan. Berbagai macam tas dan dompet, ditata apik dengan tujuan supaya para pelanggannya dapat leluasa memilih produk yang sesuai dengan keinginannya.

Pria kelahiran Sidoarjo, 24 Agustus 1960 silam ini, mulai merintis usahanya sejak 1992 hingga sekarang. “Dulu sejak tahun 1992 – 2000 lalu, gerai saya berada di dekat intako, dan pada tahun 2000 - 2004, ada di daerah Wijaya Abadi, Tulangan, dan tahun 2004 – sekarang saya fokuskan di Perum. Permata Sidoarjo ini”. kata H.Nur.

''Alhamdulillah, hingga saat ini, 75% produk yang kami buat dijual ditoko, dan selebihnya di distribusikan ke luar kota, luar pulau, maupun luar negeri, tepatnya di Malaysia'', ujar suami dari Sukarsih pada tim liputan www.krisnahome.co.cc.

Ribuan model aksesoris berbahan dasar kulit yang bervariasi, memudahkan para pelanggan untuk memilih produk sesuai dengan keinginannya. “Untuk model tas, kami selalu update dan mengikuti trend masakini melalui browsing internet, agar tidak ketinggalan mode tentang bentuk dan model tas terkini,” tandasnya..

Untuk tas wanita yang terbuat dari kulit, dibandrol mulai harga 300 ribu hingga 800 ribu. Selain tas, ikat pinggang maupun dompet berbahan kulit binatang herbivora, anda juga dapat memesan produk yang terbuat dari kulit hewan melata seperti ular. ''Untuk tas wanita, ikat pinggang, sandal, atau dompet berbahan dasar kulit ular juga dapat dipesan di sini, dan tidak perlu kuatir soal legalitas, karena ketika kami membeli bahan dasar kulit ularnya, kami juga sudah mengurus perijinannya.'' pungkasnya.

Permata Tanggulangin Collection buka mulai jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Apabila anda berminat dan ingin membeli produk-produk tas, ikat pinggang maupun dompet cantik berbahan dasar kulit, langsung saja datang ke Permata Tanggulangin Collection, Komplek Pertokoan Permata Sidoarjo Blok R3 No.46-52. Toko : Telp. 031-7050 1775, Flexi. 031-7096 0003, Fax. 031- 8066 744 atau email : hm_nuryono@yahoo.co.id. Anda juga dapat mencari informasi melalui website dengan mengklik www.permatatanggulangin.com. (Naskah/Foto : Krisna Fajar P)

Rabu, 05 Mei 2010

Gapai Kesuksesan dengan Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Di dalam dunia usaha, wajib hukumnya untuk menyeimbangkan dua unsur antara dunia dan akhirat. Bekerja dengan jujur, rutin menunaikan ibadah shalat dhuha, dan gemar bersedekah, insyaallah pintu kesuksesan akan terbuka.

Untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, banyak cara yang bisa dilakukan. Seperti halnya Ir. H. Erie Setyahadi. Pria yang dikarunia dua orang putra dan putri ini, mempunyai semangat dan jiwa militansi yang sangat tinggi. Meskipun saat umur 4 tahun Erie sudah ditinggal sang Ayah dan menjadi anak yatim, tetapi semua itu tidak menyulutkan semangat pria berkacamata ini untuk membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Terbukti, pada tahun 2000 lalu, Erie sukses mendirikan usaha percetakan dan desain grafis yang diberi nama Salsabila. Nama Salsabila dikutip dari nama anak sulungnya yang saat itu lahir pada tahun 2000 juga yaitu, Salsabila Carissa Rianchika.

Saat Erie duduk di bangku SMA, tepatnya pada tahun 1981, ia bersama kakaknya mulai merintis usaha dibidang konveksi. Hasil produksi kaos yang notabene menjadi awal mula dan inspirasi Erie tersebut, juga dibawa dan dipasarkan ke sekolahnya.

Setelah sukses dengan usaha tersebut, pada tahun 2000, Erie membuka usaha dibidang percetakan dan desain grafis meliputi, kartu nama, kop surat, faktur, undangan, memo, banner, ID card, kalender, brosur, stiker, umbul-umbul, aneka macam souvenir, tabloid, majalah, dll.

“Usaha percetakan dan desain grafis yang saya buka pada tahun 2000 itu, bisa dikatakan hanya menggunakan modal niat. Dengan budged yang sangat minim, saya memberanikan diri untuk membuka usaha percetakan.”, ungkap Erie pada tim liputan Krisnahome.co.cc.

Pria yang lahir pada 1979 silam ini menambahkan bahwa, “dalam membuka usaha, modal bukanlah hal yang utama, tetapi lebih pada kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita. Karena menurutnya, kepercayaan merupakan langkah awal untuk mencapai kesuksesan.

Kesuksesan Suami dari Hj. Kustiani ini, tak luput dari restu dan doa Ibundanya. Melalui Kekhusyukkan doa yang dipanjatkan Ibunya kepada Allah SWT tiap harinya, diyakini Erie sebagai salah satu stimulus yang membuat dirinya sukses sampai saat ini. “Bisa dikatakan kesuksesan saya ini berkat doa dari Ibu saya, karena setiap hari seusai shalat, Ibu selalu mendoakan saya supaya usaha yang saya geluti berhasil. Alhamdulillah, sampai saat ini saya sudah memanen benih kesuksean yang telah saya tanam”, terangnya.

Selain itu, Erie tidak pernah lupa dengan amalan bersedekah yang dianjurkan oleh Ust.Yusuf Mansur. Setiap jumat legi, ia melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel dan membagikan sejumlah uang kepada kaum dhuafa yang ada di sekitar komplek makam. “Alhamdulillah dengan bersedakah saya tengah merasakan berkahnya seperti, percetakan Salsabila yang sudah 10 tahun ini tidak menggunakan Marketing. Saya istilahkan merketing saya adalah malaikat. Dengan kita bersedekah, Allah SWT menjamin akan mengembalikan 10 kali lipat, tentunya dengan bentuk rezeki yang tidak kita duga”, pungkasnya.

Erie berpesan, “untuk meraih kesuksesan dalam sebuah usaha, kita harus bekerja dengan jujur, dan tidak menggunakan hasil yang diperoleh dari usaha kita tersebut untuk hal-hal yang negatif, seperti minum-minuman keras, narkoba, dll, karena apabila kita melakukan itu, maka pintu kesuksesan akan menjauh dari usaha kita”. (Naskah : Krisna Fajar P / Foto : Robbah M)

Sabtu, 26 Desember 2009

Kerajinan Kaca Pyrex, begitu Menawan Hati

Membuat kerajinan tangan memang harus mempunyai daya imajinasi yang cukup tinggi. Kerajinan tangan atau handicraft umumnya terbuat dari kayu, logam, dan tanah liat. Namun handicraft yang satu ini menggunakan bahan baku kaca, yaitu kaca pyrex. Sebuah karya seni yang sekilas mirip dengan kristal ini, mulai berkembang dan tengah memiliki para pelanggan tetap, baik dari kalangan biasa, artis, maupun pejabat.

Sebut saja Andi. Pria yang menjadi salah satu korban amukan Lumpur Lapindo ini, mencoba peruntungan wirausaha dibidang pembuatan karya seni yang begitu menawan hati, tentunya berbahan dasar kaca pyrex. Lewat tangan terampil pemuda Sidoarjo ini, kerajinan tangan kaca pyrex, patut disejajarkan dengan produk dari luar negeri. Karena detail, kehalusan, ketelitian dalam pengerjaannya. Pria Lulusan SMK 1 Sidoarjo tersebut, mengatakan bahwa, “Kaca pyrex dipilihnya, karena kilau yang dipancarkan hampir tidak bisa dibedakan dengan kaca kristal”.

Produk yang telah dihasilkan sampai saat ini adalah, beraneka macam company award, souvenir (pengantin/seminar), cenderamata, aksesoris, trophy (bentuk orang, logo company), hiasan interior, kado hadiah dan berbagi macam miniatur hewan.

Sebenarnya, kaca pyrex merupakan bahan dasar daripada alat-alat laboraturium. Akan tetapi, ditangan bapak satu anak ini, kaca pyrex dalam waktu kurang dari 20 menit, dapat disulap menjadi berbagai karya seni dengan aneka jenis dan bentuk yang tentunya mempunyai nilai seni dan harga jual yang tinggi.

“Waktu itu saya dikirim ke Kuala Lumpur oleh perusahaan untuk mendalami seni kerajinan ini. Tiga tahun saya di sana. Dua tahun menerima pelajaran dasar dan setahun belajar mengahayati imajinasi,” ujar Andi, yang sekarang telah membuka gerai sendiri. “Saya bingung ketika pulang ke Surabaya, perusahaan yang mengirim saya ternyata sudah tidak ada alias bangkrut,” tambahnya.

Tekhnik pembuatan kerajinan kaca pirex ini, dengan cara di bakar pada suhu tinggi, tepatnya di atas 750 derajat celcius, sehingga bahan baku mudah untuk dibentuk sesuai keinginan. Sifat kaca yang isolator sangat membantu dalam pengerjaan, karena kaca tidak mengahantarkan panas. Lama pengerjaan tergantung dari kesulitan bentuk. “Yang paling rumit biasanya memakan waktu 3 jam lebih,” kata Andi.

Untuk sebuah karya yang mempunyai nilai seni tinggi, harga produk kaca pyrex ini tergolong cukup murah, mulai dari Rp.15.000 hingga Rp.2.500.000. Netha Art & Craft yang dibangun oleh Andi, juga melayani pesanan berbagai macam bentuk. Kualitas karyanya tidak perlu diragukan lagi.

Bagi anda yang berminat, bisa langsung datang ke kantor Netha Art & Craft di Perum Magersari Permai Blok A-6 Sidoarjo. Bagi anda yang berada di Surabaya, Andi juga membuka showroom di Royal Plasa (craft center) LG no AA 1-18. Selain itu mereka juga memiliki showroom hasil kerja sama dengan instansi pemerintahan seperti di Disperindag Jatim dan Dekranas Sidoarjo. Pemesanan secara online juga bisa dilakukan melalui website www.nethacfrat.indonetwork.co.id. Netha Art & Craft memberikan layanan antar bagi pelanggan di sekitar Surabaya dan Sidoarjo saja. (Naskah/Foto : Krisna Fajar P.)

Selasa, 27 Januari 2009

Kemilau Cantik, Souvenir Gelas Kaca

Bicara tentang Souvenir atau oleh-oleh, pasti langsung terlintas dibenak sobat muda tentang makanan atau benda-benda antik dan unik. Kali ini, tim liputan krisnahome.blogspot.com akan mengajak sobat muda untuk mengupas dan menelusuri Souvenir khas Kota Batu yang mungkin saat ini sudah sangat langka.

Sobat muda pasti tidak asing lagi ketika melihat atau mendengar sebuah gelas kaca biasa yang mempunyai nilai estetik cukup tinggi, apabila dibuat dengan sedikit apresiasi seni dan segenap curahan hati oleh tangan-tangan yang terlatih dan berpengalaman. Ya, pada umumnya, gelas kaca biasanya
digunakan kebanyakan orang untuk minum air putih, teh, kopi, dll. Tetapi, gelas kaca yang satu ini, mempunyai nilai yang lebih untuk hanya sekedar digunakan sebagai wadah untuk minum bagi kebanyakan orang.

Militansi dalam suatu usaha telah menorehkan keteguhan dan keyakinan tentang makna kesuksesan. Sehingga tindakan nyata yang senantiasa harus ada dalam kerja keras dan konsisten untuk menghasilkan produk dengan mutu yang baik pula. Itulah serangkaian kalimat yang menstimuli Kakek tua berkacamata yang mulai merintis usahanya sejak 1959 ini. Di tangan pria paruh baya ini, gelas kaca biasa dapat disulap menjadi souvenir yang cantik dan mempunyai nilai seni yang cukup tinggi.

Dapat sobat muda bayangkan, gelas kaca tersebut, oleh Kakek kelahiran 1929 ini, di beri sebuah cairan beraneka ragam warna. Dan yang membuat para pengunjung tertarik untuk memborong souvenir tersebut adalah, saat gelas kaca tersebut dibalik, cairan warna-warni yang menghiasi gelas kaca tersebut tidak tumpah. Bahkan gelas kaca yang berisi cairan warna-warni tersebut masih bisa digunakan sesuai dengan fungsinya semula, yaitu digunakan untuk minum air.

“Untuk menjalankan usaha ini, Saya tidak mengambil banyak keuntungan. Harga Souvenir gelas kaca yang Saya buat juga bervariasi. Gelas kaca warna-warni yang berukuran kecil biasanya saya jual Rp. 2000, sedangkan yang berukuran agak besar biasanya saya jual Rp.3000.” Ungkap Kakek yang pernah bekerja di Pabrik Gelas di Jl. Ngagel Surabaya, pada zaman penjajahan Belanda ini.

Di alun-alun Kota Batu, Ali tidak hanya menjual souvenir gelas kaca warna-warninya. Untuk menghibur para pengunjung, dan untuk menarik perhatian para pembeli tentunya, Kakek yang genap berusia 79 tahun ini juga memberikan sedikit atraksi, bagaimana cara membuat gelas kaca warna-warninya.

Atraksi yang disuguhkan oleh Ali tidak henti-hentinya menarik perhatian para pengunjung yang kebetulan sedang melintas di alun-alun Kota Batu. Ayah dari Lima anak ini, juga sudah mempunyai pelanggan tetap, baik dari kalangan tua, muda, maupun anak-anak.

Kakek berambut putih ini juga sering diundang untuk mengikuti Pameran di Dieng Kota Malang. “Saya sering mengikuti Pameran di Malang, dari pameran tersebut, produk andalan Saya banyak dipesan untuk Souvenir acara pernikahan dan oleh-oleh” tegas Kakek bertubuh kurus ini.

“Souvenir buatan Saya tidak hanya dipesan di daerah Malang saja, tetapi, di Mall Surabaya, tepatnya di TP (Tunjungan Plaza), dan JMP (Jembatan Merah Plaza), para pedagang pernak-pernik souvenir nya pun rutin setiap bulan memesan Gelas kaca warna-warni buatan Saya.” Pungkasnya. (Naskah : Krisna Fajar P. / Foto : Sultan HW.)

Rabu, 26 Maret 2008

Jual Koran untuk Sandaran Hidup

Mencari jarum diatas tumpukan jerami. Sebuah ungkapan yang pas untuk mengutarakan berbagai upaya yang dilakukan banyak masyarakat dalam mencari pekerjaan di kota Surabaya yang kejam dalam hal lapangan pekerjaan ini.

Menjelang matahari terbit Fery Dodik Setiawan bergegas keluar dari rumahnya yang berada di kawasan Jl. Juwingan Surabaya dan mulai mengayuh sepeda bututnya untuk mengambil koran di agen. Dinginnya udara pagi tidak menyulutkan semangat anak berumur 12 tahun ini untuk mengerjakan kegiatan sehari – harinya yaitu berjualan koran untuk menyambung hidup.

Setelah mengambil koran di agen, anak putus sekolah ini langsung menuju tempat biasa dia menjual koran – korannya yaitu di perempatan Bratang di depan Kebun Bibit. ”boro – boro sekolah mas, wong udah bisa makan aja udah alhamdulillah”, kata Fery dengan mengusap keringat saat baru sampai di tempat biasanya dia berjualan koran.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak pernah sedikitpun memperlihatkan raut muka yang menunjukkan penderitaannya selama ini. Meski kesehariannya dihabiskan di jalan untuk berjualan koran, tetapi anak periang ini selalu menghadapi kejamnya hidup ini dengan senyuman.

Seperti anak – anak lain pada umumnya, Fery juga ingin sekolah, tetapi karena kedua orang tuanya tidak bekerja, dia lebih memilih membantu orang tuanya mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari. ”Yang bisa saya lakukan hanya jual koran mas, yang penting nggak nyuri, anak seumuran saya mau kerja apalagi kalau nggak jual koran”, tegas Fery.

Sembari melepas lelah dan memeras keringat, Fery mencari tempat teduh untuk beristirahat sejenak dengan menikmati makanan bikinan Ibunda tercintanya yang dibungkus rapi dengan kertas minyak. ”Ini bukan kegiatan rutin kok mas, kalau dibikinin sarapan yah saya bawa, kalau nggak yah uda”, ucap Fery setelah melahap makanan bikinan Ibunya.

”Saya tidak pernah malu dan menyesal menjadi penjual koran, karena disamping pekerjaan ini halal, saya juga merasa banyak membantu para pembaca koran untuk dengan mudah mendapatkan koran tersebut. Saya juga sudah menabung untuk tahun depan, karena tahun depan saya akan melanjutkan sekolah saya yang putus di bangku kelas lima SD., Doain saya yah mas...”, kata Fery dengan memperlihatkan senyum khasnya.