Sabtu, 06 Desember 2008

Jurnalis, Pahlawan Di Balik Layar

Koran, majalah, tabloid, televisi maupun media online merupakan pusat sumber informasi bagi masyarakat umum. Dengan adanya berbagai media massa tersebut, masyarakat yang awalnya tidak tahu akan suatu kejadian / informasi apapun, mereka dapat mengetahui dengan melihat / membaca media massa.

Semua isi dan tampilan dari media massa tersebut, tidak lepas dari peran seorang wartawan tulis, reporter, kameramen dan fotografer. Karena mereka adalah sosok pekerja lapangan yang tak kenal lelah. Semua risiko dan hambatan yang ditemui di lapangan, tidak membuat mereka gentar, justru mereka akan lebih terpacu untuk menerobos deadline yang diberikan redaktur mereka.

Pekerjaan yang sangat menyita waktu ini terkadang membuat sebagian wartawan jenuh da
n ingin berhenti untuk menggelutinya. Tetapi, berkat rasa solidaritas dan loyalitas dari sesama rekan seprofesinya, membuat pikiran untuk berhenti dari profesi sosial ini menghilang dari benak mereka.

Para Jurnalis yang sudah berkeluarga, juga terkadang rela meninggalkan keluarganya demi kepentingan perusahan PERS yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka. S
uasana liputan yang selalu baru dan beraneka ragam pada setiap harinya, dapat mengalahkan rasa penyesalan telah mengemban profesi sebagai Jurnalis.

Dalam mengemban tugas yang beresiko tinggi dengan segala konsekuensinya ini, masih banyak jurnalis yang kesejahteraannya masih dibawah standart gaji UMR. Tetapi mereka para Jurnalis, lebih mengetengahkan rasa sosial dan kepuasan batin dirinya masing-masing, dan karena itu pula, wartawan mendapat gelar atau sebutan sang Kuli Tinta. (Naskah : Krisna Fajar P. / Foto : Dok. & Trisnadi & Krisna Fajar P.)


Kamis, 19 Juni 2008

Legalitas Jamu Tradisional Di Jawa Timur

Obat Tradisional (OT) yang lebih dikenal dengan istilah Jamu, kembali mengalami masalah serius. Pasalnya jamu yang dikenal sebagai obat turun-temurun dari leluhur, ternyata oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dijadikan lahan basah dalam mencari nafkah.

Razia gabungan antara Dinas Kesehatan (DINKES) Wilayah Jawa Timur dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB POM) membuahkan hasil yang patut di acungi jempol, sebanyak 44 jamu tradisional berbahaya berhasil terjaring dari beberapa toko yang ada di Surabaya.

Drs Husin RM, Apt. Mkes, selaku Kepala Seksi Obat Tradisional dan Kosmetik Dinkes Provinsi Jatim menyatakan bahwa, “Nomor registrasi yang ada dalam kemasan jamu memang ada, tetapi setelah kami periksa, ternyata nomor registrasi tersebut palsu, dan isinya tidak sesuai dengan nomor registrasi kemasan jamu yang asli”,

Jamu palsu tersebut mempunyai efek yang buruk bagi seluruh struktur tubuh manusia. Disinyalir bahan-bahan dasar yang digunakan untuk meramu jamu palsu tersebut tidak semuanya mengandung ketentuan sebagaimana mestinya. Tidak meringankan penyakit yang diderita, malah bisa membahayakan jiwa yang mengkonsumsinya.

“Jamu asli apabila dikonsumsi sesuai dengan aturannya akan menjadi obat, tetapi apabila jamu palsu yang tidak jelas legalitasnya, hendak dikonsumsi akan menjadi racun untuk tubuh kita. Sebenarnya para pemalsu jamu yang kasusnya saya tangani, rata-rata mereka menambahkan bahan yang tidak sepatutnya untuk dikonsumsi manusia”, papar Pria yang dulunya bekerja sebagai jurnalis ini..

Jamu tradisional yang paling sering dijadikan praktek pemalsuan oleh berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab diantaranya adalah, jamu kuat untuk pria dewasa, jamu pelangsing, jamu penyembuh rematik dan flu tulang, rapet wangi, serta obat kencing manis.

Menurut Husin, “Sebenarnya tidak ada jamu yang mempunyai indikasi untuk menyembuhkan penyakit. Karena itu, tanpa melihat isi terlebih dahulu, saya bisa tahu apakah jamu tradisional itu palsu atau tidak dengan melihat indikasi di balik bungkus produk jamu tersebut”.

“Selain melihat indikasi di balik bungkus jamu, metode lain untuk mengetahui legalitas jamu tersebut adalah melalui nomor registrasi yang juga tertera di belakang bungkus. Jadi, para pencinta jamu juga harus memperhatikan jamu yang akan di konsumsinya”, imbuhnya. (Naskah & Foto : Krisna Fajar P. )





Sepur Kelinci, Ketangkap Polisi

Ritual Konvoi keliling untuk merayakan kelulusan memang menjadi pemandangan tersendiri bagi sobat muda. Tetapi pada tahun ini, sobat muda dari SMAN 4 Surabaya menyuguhkan pemandangan yang cukup lucu dengan berkonvoi keliling Surabaya dengan menaiki kereta kelinci.

Perasaan bahagia, terpancar dari ekspresi sobat-sobat muda kita yang sedang merayakan kelulusannya. Saat melintas di depan DKS (Dewan Kesenian Surabaya), Unit Tim Speed dari kepolisian segera memberhentikan kereta kelinci yang sedang membawa sekumpulan sobat muda yang sedang merayakan kelulusan.

Menurut tim Speed, kereta kelinci ini, mengganggu kelancaran pengguna jalan yang lain, dan terlebih lagi membuat jalan menjadi macet total. Supir kereta kelinci tersebut diminta paksa untuk menurunkan sejumlah sobat muda yang sedang merayakan kelulusannya tersebut.

Menurut Bima salah satu siswa SMAN 4 Surabaya, “Sebenarnya kami ingin berkonvoi untuk merayakan kelulusan dengan cara kami yang mungkin agak konyol, tetapi semua itu batal karena kereta kelinci yang kami naiki keburu ketangkan sama pak polisi”.

Saat di temui tim liputan Krisnahome.blogspot.com sobat muda yang berbintang Libra ini mengatakan, “Padahal, kami dan teman-teman SMAN 4 yang lain sudah berkomitmen agar tidak berbuat anarkhi, tapi sayang Pak Polisi tidak merestui cara kami dalam merayakan ritual yang hanya satu kali dalam seumur hidup” .

“Kami merasa tidak membuat jalan menjadi macet, saat melintas di sejumlah ruas jalan justru masyarakat pengguna jalan yang melintas merasa terhibur dengan perayaan konvoi kelulusan ala anak-anak SMAN 4 Surabaya.” Imbuhnya. (Naskah & Foto : Krisna Fajar P.)





Konvoi Lulusan, Banjiri Jalan

Pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) SMA, membuat para sobat muda yang sudah menempuhnya girang tak kepalang. Senin (16/06), segerombalan sobat muda baik dari SMA negeri maupun Swasta beramai-ramai konvoi keliling kota Surabaya guna merayakan kelulusannya.

Saat ditemui tim liputan krisnahome.blogspot.com, Nurul salah satu sobat muda dari SMA Mahardika Surabaya yang juga merayakan kelulusan dengan berkonvoi keliling mengatakan bahwa “Dia sangat senang karena lulus UAN, sebab mengingat UAN pada tahun ini cukup membuat hati sobat muda berdebar-debar.”

“Alhamdulillah mas, anak-anak Mahardika lulus 100 % dan tidak ada satu pun yang tidak lulus. Rencana kedepannya, saya mau melanjutkan kuliah, tapi masih nunggu hasil nilai kelulusannya,” ungkap gadis berambut panjang ini.

Konvoi keliling Surabaya untuk merayakan kelulusan memang sudah menjadi ciri khas yang sulit untuk di hilangkan. Sekitar 500 sobat muda yang merayakan kelulusannya, berkumpul ke SMA Komplek dan Balai Kota Surabaya. Di dua pusat konfoi tersebut, ribuan sobat muda yang merayakan kelulusannya membanjiri jalan untuk meluapkan kegembiraannya dengan tradisi mengecat jalan.

Menurut Kanit Patroli Polsek Genteng IPDA Suwarno, “Saya dari jam 09.00 mulai memantau anak-anak ini dari daerah PDAM sampai ke SMA komplek ini. Ribuan anak-anak muda ini saya lihat bukan dari SMA Negeri Komplek sendiri, melainkan dari SMA Swasta yang lain”.

“Anak-anak SMA Negeri Komplek, tidak mungkin berani untuk mengekspresikan kelulusannya konfoi di jalan, karena mereka memang tertib, tidak seperti anak-anak SMA lain yang membuat jalan menjadi macet total,” imbuhnya. (Naskah & Foto : Krisna Fajar P)




Senin, 19 Mei 2008

Bermake up Untuk Modal “Jual Diri”

Bermake up merupakan suatu hal yang biasa dilakukan oleh kaum hawa. Ibarat salah satu bumbu pelengkap dalam memasak, make up juga merupakan sebagai kebutuhan fisik, agar membuat wanita lebih PD (Percaya Diri), dan terlihat nampak lebih cantik nan menarik.

Panggil saja Molly, cewek 18 tahun ini menganggap make up merupakan kebutuhan yang tidak dapat di tinggalkan, pasalnya apabila tidak memakai make up, cewek kelahiran tahun 1989 ini merasa ada yang kurang dalam dirinya alias tidak PD. “Kalo nggak pake make up tuw, temen-temenku pada protes semua, katanya kok beda dari biasanya sich, padahal kalo aku pake make up, katanya aku terlihat lebih cantik”, ujar Molly.

Cewek yang punya nama lengkap Maulina Tri Herllinggawati ini memang tidak bisa lepas dari make up. Saat ditemui tim liputan Krisnahome.blogspot.com di kampusnya, cewek berbintang Libra ini mengatakan bahwa, bagi dia bermake up merupakan salah satu modal untuk “Menjual Diri”. “Jangan berprasangka negatif, maksudnya menjual diri tuw, kan aku kerja jadi SPG, jadi paling enggak aku harus jaga penampilanku dengan ber make up dong”, tegas cewek bertubuh seksi ini.

“Rata-rata orang melihat kita dari penampilan fisik saja, karena itu kita harus membuat orang yang ada disekeliling kita menjadi tak berkedip saat melihat kita”, ungkap cewek yang bekerja sebagai SPG Property Perum Kamal Madura milik PT. Propindo Wira Utama ini. Saat diberi kesempatan membuka tas Molly, tim liputan Krisnahome.blogspot.com menemukan berbagai produk kosmetik yang selalu dibawanya seperti, lipstick, bedak, mascara dll.

Untuk para sobat muda yang kurang PD saat bermake up, Molly sekedar memberi tips untuk mempercantik diri ala gayanya, dengan tetap bermake up. Mula-mula, agar tampak lebih fresh, sobat muda harus memakai bedak, gak perlu pake merah pipi, cukup ditambah dengan pelembab, blash on, maskara, dan lipglos. Dijamin sobat muda akan nampak telihat lebih cantik dan menarik. [Naskah : Krisna Fajar P] [Foto : Bambang Tri Atmojo]




Thejavu Band Warnai Musik Indie Surabaya

Berawal dari mengisi acara PENSI di SMAN 6 Surabaya, kini thejavu berhasil mengukir nama di balik chart musik indie band radio EBS FM Surabaya. Pada minggu ini, single hits thejavu yang berjudul 1000 kisah berhasil masuk di peringkat 8 chart request EBS FM.Banyaknya indie band di Surabaya tidak menyulutkan semangat band yang menamakan dirinya thejavu untuk mengapresiasikan karya mereka. Band yang terbentuk pada tahun 2007 ini, diperkuat oleh Hamzah Karallah (Vokal), Satria Mandira (Gitar), David Jamaludin (Bassist), dan Ario Pramudita (Drummer).

Menurut Satria, “Nama thejavu ini di ilhami dari film De javu yang memiliki arti pernah melihat atau merasakan”. “Walaupun nama band kami belum dikenal oleh masyarakat, kami akan berusaha agar setiap masyarakat yang mendengar lagu-lagu kami seolah teringat dengan nama kami (thejavu)”. Tambahnya.

Kesamaan visi dan misi membuat seluruh personil thejavu ingin menggebrak kancah industri musik di Surabaya. “Rencana bikin video klip memang ada, tetapi yang paling utama adalah menunjukkan eksistensi kami kepada masyarakat luas khususnya daerah Surabaya dan sekitarnya”, tegas gitaris thejavu yang juga penggemar Dewa Budjana ini.

Band yang beraliran pop-alternatif ini baru seumur jagung, tetapi dengan modal nekat, thejavu band ini berani menduduki chart musik indie band di radio EBS FM Surabaya. Alhasil, dalam minggu ini single hitsnya yang berjudul 1000 kisah berhasil masuk di peringkat 8 chart request EBS FM. [Naskah : Krisna Fajar P.] [Foto : Dok. Thejavu band]



Unilever Dukung Visit Indonesia Lewat Jajanan Bango

Festival Jajanan Bango (FJB) yang digelar di Stadion Brawijaya Surabaya berlangsung cukup meriah. Acara yang bertajuk FJB ini merupakan keempat kalinya yang sudah diselenggarakan oleh PT Unilever Indonesia melalui merek kecap andalannya, yaitu bango.

FJB digelar di tiga kota besar di Indonesia, setelah Surabaya, selanjutnya FJB akan digelar di Bandung (Jawa Barat), menyusul kemudian sebagai acara puncak, FJB akan hadir selama 2 (dua) hari di Jakarta. “Melalui Festival Jajanan Bango, kami ingin mengajak masyarakat luas untuk melestarikan aneka makanan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun-temurun dimana keberadaannya saat ini kalah populer dengan makanan siap saji dari mancanegara,” ucap Memoria Dwi Prasita, Manajer Merk Bango, yang akrab disapa Memor.

Sesuai dengan tema pilihan, FJB kali ini akan menghadirkan 80 makanan tradisional khas dari kota setempat. Dan masih ditambah lagi partisipasi dari 8 duta Bango dari luar kota. Para penjaja makanan yang akan tampil di FJB tahun ini mewakili kota Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bogor, Solo, dan Medan.

“Digelarnya FJB juga sebagai upaya Bango untuk ikut serta dalam mensukseskan program Visit Indonesia Year 2008 melalui wisata kuliner. Dengan lebih menghidupkan kegiatan kuliner melalui ajang FJB, diharapkan dapat mendukung kemajuan pariwisata Indonesia,” Jelas Okty.”Kami menyadari bahwa makanan adalah bagian dari budaya dan menjadi agenda tahunan wisata kuliner bagi kota-kota yang disinggahi dan yang ikut serta dalam FJB.” imbuhnya. [Krisna Fajar P] [Foto : MA Sutomo].