Rabu, 15 September 2010

Jasa Pelukis Jalanan di Area Apotik Simpang

Bagi masyarakat pada umumnya, untuk mengabadikan wajah seseorang, biasanya menggunakan media kamera. Akan tetapi ada cara lain untuk mengabadikan wajah seseorang dengan menggunakan mediasi kertas serta goresan pensil dengan sedikit sentuhan sense of art oleh sang pelukis.

Apabila sobat muda melintas di Jl. Gubernur Suryo tepatnya di persimpangan Apotik Simpang tersebut, sobat muda akan melihat para seniman karikatur jalanan yang membuka jasa melukis portrait wajah. Di area tersebut saat ini dapat dijumpai sedikitnya lima seniman yang mengais rezeki dengan melukis portrait wajah.

Selasa, 14 September 2010

Museum Pendidikan Wahana Baru KBS di Libur Lebaran

Bertepatan dengan cuti bersama dan libur lebaran, Kebun Binatang Surabaya (KBS) mempunyai nuansa wahana baru yang bertajuk Museum Pendidikan. Di sini, pihak manajemen KBS memamerkan beraneka ragam satwa yang telah diawetkan. Masyarakat dapat melihat satwa-satwa yang belum pernah dilihatnya dari dekat dan secara detail.

Menurut Sutrisno salah satu staf bagian pendidikan konserfasi hewan KBS mengatakan bahwa animo masyarakat pada Museum Pendidikan ini sangat besar, terbukti dalam buku tamu tercatat kurang lebih ratusan nama yang mengunjungi museum tersebut.

Jumat, 10 September 2010

Takbiran Ala Korban Lumpur Sidoarjo

Allahhuakbar.. Walillailham. Berkumandangnya gema takbir pada Kamis (09/09) pertanda hari kemenangan bagi umat islam di seluruh dunia yang selama satu bulan penuh berhasil menahan lapar dan dahaga, serta hawa nafsu yang setiap saat dapat menjerumuskan manusia kedalam jurang dosa telah tiba.

Oleh karena itu semua umat muslim tanpa terkecuali berupaya mengekspresikan kemenangan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan takbir keliling. Takbir keliling merupakan salah satu ritual yang selalu menjadi tradisi di setiap penghujung bulan Ramadhan.

Seperti halnya takbir keliling yang dirayakan oleh masyarakat desa Besuki kecamatan Jabon kabupaten Sidoarjo ini. Berbagai elemen masyarakat yang ada di desa Besuki, Jabon, Mindi dan sekitarnya, berkumpul dengan guyub merayakan hari kemenangan dengan takbir keliling di daerah pengungsian korban lumpur Besuki.






















Takbir keliling yang dirayakan oleh para Korban Lumpur Sidoarjo ini bisa dibilang agak berbeda dengan perayaan takbir keliling lainnya. Pasalnya, bermacam-macam pertunjukkan seperti menyemburkan api dari mulut yang dilakukan oleh anak-anak, memainkan petasan tradisional yang biasa disebut "Bumbung", seruan takbir yang diiringi oleh marching band yang ala kadarnya, hingga berjoget di tengah jalan. Duka nestapa akibat keganasan lumpur Sidoarjo tersebut, sejenak berubah menjadi canda dan tawa.

Meskipun pertunjukan menyemburkan api dari mulut yang dilakukan oleh anak-anak terlihat berbahaya, akan tetapi mereka melakukannya dengan sempurna bak pemain sirkus ternama. Dengan bergantian, satu per satu anak-anak dengan tangkas menyemburkan api dengan cara meminum minyak gas lalu menyemburkan ke arah obor yang dipegangnya.

Filani, salah satu peserta takbir keliling yang berasal dari Pondok MI Daarul Ulum Sidoarjo, mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam acara tersebut untuk meramaikan acara yang hanya dapat dirayakan satu tahun sekali. "Saya ikut acara ini karena ingin merayakan hari kemenangan dengan bertakbir keliling di sekitar pengungsian Besuki ini", celoteh bocah 12 tahun ini pada Krisnahome.co.cc.

Tak ayal, setiap orang yang melintas di lokasi pun, sontak menghentikan laju motornya seraya tak ingin melewatkan pemandangan yang cukup jarang ditemui tersebut. Banyaknya elemen masyarakat korban lumpur Sidoarjo yang andil dalam perayaan takbir keliling tersebut menjadi suguhan dan kemasan yang unik nan menarik untuk ditonton. (Naskah/Foto : Krisna Fajar P.)

Ekspresi Duka dalam Balutan Kostum Takbir Keliling

Dalam acara takbir keliling yang digelar oleh berbagai elemen masyarakat korban lumpur Sidoarjo ini, ada sebuah pemandangan yang menggambarkan keadaan masyarakat Besuki akibat bencana Lumpur Lapindo. Sebagian para peserta takbir keliling mengekspresikannya dengan takbir keliling menggunakan kostum yang cukup ekstrem.

A
nak-anak muda ini memakai kostum diantaranya adalah kostum pocong, ustadz, orang utan, waria, dan orang gila. Mereka adalah Crew AIR (Abdi Ilmu Remaja) yang merupakan gabungan dari remaja desa Besuki yang menjadi korban Lumpur Sidoarjo.

Saat ditemui Krisnahome.co.cc, Nur Hamid Koordinator takbir keliling tersebut mengatakan bahwa, "Kami remaja desa Besuki tidak putus asa, kami berusaha bangkit dari keterpurukan yang berkepanjangan ini dengan salah satunya mengadakan pembekalan tentang penanaman tanaman agro bagi remaja desa Besuki", ungkap pria yang saat itu memakai kostum ustadz.

Lain halnya dengan Abidin. Salah satu peserta takbir keliling yang memakai kostum putih mencolok dengan balutan make up putih hitam menyerupai pocong. Ia mengaku bahwa kostum yang dipakainyaadalah salah satu wujud dari ekspresi remaja desa Besuki yang tengah geram kepada pihak Lapindo yang tengah menghancurkan masa depannya.
(Naskah/Foto : Krisna Fajar P.)

Sabtu, 28 Agustus 2010

Festival Wisatahati untuk Anak-Anak

Dalam rangka memperingati Bulan Suci Ramadhan, Wisatahati Perwakilan Jawa Timur bekerja sama dengan salah satu Mall terbesar di Surabaya yaitu ITC Mega Grosir, menggelar acara yang bertajuk ''Festival Wisatahati untuk Anak'', Sabtu-Minggu (28-29/08). Berbagai macam varian acara seperti perform Al-Banjari, lomba memakai mukena untuk anak-anak, lomba adzan untuk anak-anak, serta lomba memakai sarung untuk anak-anak.

Acara pertama dibuka oleh perform dari Grub Shalawat Al Muhibbin dari rangka Surabaya. Setekah itu dilanjutkan dengan lomba mukena yang diperuntukkan bagi anak-anak usia 4-5 tahun.

Setelah itu dilanjutkan dengan lomba ketangkasan memakai sarung untuk anak-anak usia 4-6 tahun. Canda tawa teriring saat menyaksikan lomba yang satu ini, pasalnya para peserta yang mengikuti lomba ini kebanyakan tidak terlalu fasih dalam mengenakan sarung.

Lomba-lomba unik yang disuguhkan oleh Wisatahati Perwakilan Jawa Timur ini sontak mengundang antusias dari para pengunjung ITC Mega Grosir yang saat itu sedang melintas di lokasi Festival Wisatahati untuk anak-anak.

Yang lebih membuat para pengunjung terkesima adalah penampilan dari santri-santri PPPA (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an) yang berasal dari rumah tahfidz Semolowaru Surabaya. Tiga santri putri tersebut, berdiskusi dengan menggunakan bahasa Arab.

Hal tersebut membuktikan bahwa, santri-santri penghafal Al-Qur’an yang dibina oleh Wisatahati Perwakilan Jawa Timur, tak hanya bisa menghafal Qur’an saja, akan tetapi juga diajarkan tentang ilmu umum agar kelak setelah diwisudah menjadi hafidz tidak ketinggalan dengan masyarakat yang lain. (Naskah / Foto : Krisna Fajar Permana)

Jumat, 27 Agustus 2010

Mancing Sambil Ngabuburit

Banyak hal bisa dilakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa. Mencari aktivitas dan menyibukkan diri merupakan suatu hal yang biasa dilakukan masyarakat Surabaya ketika menunggu waktu berbuka puasa. Salah satu kegiatan yang menjadi kegemaran saat ngabuburit adalah memancing. Memancing kebanyakan dilakukan oleh kaum Adam. Kegiatan ini notabene dapat menjadi suatu alternatif dalam menghilangkan stres.

Di Surabaya, berbagai kalangan masyarakat yang punya hobi memancing, biasa terlihat di anak sungai Jagir (samping gedung pusat kebudayaan Prancis/CCCL). Dengan hanya membawa umpan tumbuhan lumut yang dibeli seharga 2000 rupiah, mereka dapat merefresh pikiran sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba.

“Meskipun tidak bulan puasa, pada hari-hari biasa pun saya selalu mancing di sini. Kebetulan saat ini bulan puasa, saya datangnya lebih awal dan berharap sore nanti kail saya dapat menarik ikan sebanyak-banyaknya untuk menu berbuka puasa”. papar Soemitro, salah satu pemancing yang saat itu ditemui tim liputan Surabayamuda.com di sela-sela kegiatan memancingnya.

Lokasi pemancingan ini meskipun terlihat kumuh dan kotor, tidak pernah sepi dari pemancing. Pasalnya, tempat ini dinilai para pemancing sebagai sarang ikan atau tempat di mana ikan itu banyak didapatkan dengan mudah oleh para pemancing yang memancing di lokasi tersebut.

Soemitro menambahkan, “Sepertinya memang ikan di sini sudah habis, karena setiap hari selalu dipancing oleh orang-orang Surabaya. Dari tadi hingga sekarang, saya baru mendapat dua ikan, itu pun ikan mujair”.

“Di tempat ini, banyak juga yang mendapat ikan gabus dengan ukuran yang sangat besar. Sampai sekarang kail saya belum pernah mendapat ikan gabus seperti yang dibilang orang-orang. Hal itulah yang masih memancing rasa penasaran saya untuk memancing di tempat ini”,pungkasnya. (Naskah : Krisna Fajar P. / Foto : Andy Sam)

Selasa, 17 Agustus 2010

Semangat 45 bersama Komunitas Cafe Dahlia

Untuk peringati Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke 65, Komunitas Cafe Dahlia yang terdiri dari gabungan element masyarakat, dan mahasiswa Stikosa AWS menghelat Upacara Yang digelar di sepanjang Jalan Nginden Intan Timur Surabaya.

Upacara yang digelar oleh masyarakat yang menamakan dirinya komunitas cafe dahlia tersebut, bisa dibilang merupakan upacara yang paling pertama, karena digelar tepat pada 17/08 tepat pukul 12.00 malam.

Dalam upacara tersebut, bertindak sebagai Pembina upacara adalah Suyono Pastra, Pemimpin upacara Syarif Wajabae, Pembaca UUD 45 Dedik Yudi Raharjo, Pembaca Doa Cak Rofiq, MC Protokol Dony Maulana, pengibar bendera merah putih Ardianto, Helmy, dan Aris Ucup, serta pembaca teks proklamasi adalah Reza Nurmansyah.

Menurut Suyono Pastra selaku Pembina Upacara, ''Upacara yang dilaksanakan oleh komunitas dahlia cafe ini sudah dilgelar sejak tahun 2005 silam''. Suyono juga menambahkan bahwa, ''Selama ini, upacara yang digelar oleh komunitas cafe dahla pada tiap tahunnya selalu malam hari dan tepatnya pukul 12.00 malam, karena apabila upacara dilaksanakan pagi atau siang hari kemungkinan peserta upacara akan sedikit, mengingat bertepatan dengan bulan puasa. Selain itu pada dasarnya kita-kita ini terbentuk berawal dari sebatas cangkruk'an.'' paparnya.

Sejatinya masyarakat dahlia cafe mempunyai rutinitas dan kesibukan yang bermacam-macam. Di samping itu, momentum kemerdekaan Indonesia yang ke 65 ini juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kebetulan juga warga cafe dahlia banyak berkumpul saat malam hari.

Upacara ini dilakukan dengan proses yang sederhana, mulai dari tiang bendera yang hanya dibuat dari bambu yang ala kadarnya, lokasi upacara yang bertempat di sepanjang jalan raya, serta petugas upacara yang terbentuk secara spontanitas dan sukarela.

Tak jarang sebelum Upacara dimulai, tepatnya pukul 10.00, seluruh warga dahlia cafe tengah melakukan persiapan. Menginjak pukul 11.45, pembina upacara menginstruksikan untuk gladi resik. Saat gladi resik, tampak wajah grogi dari setiap petugas upacara yang saat itu mengajukan diri menjadi petugas relawan upacara secara spontanitas.

Setelah waktu menunjukkan pukul 12.00 tepat, upacara yang sesungguhnya pun segera dimulai. Canda tawa saat gladi resik seketika berubah menjadi sunyi. Lantunan lagu Indonsesia Raya yang dinyanyikan oleh semua peserta upacara saat mengiringi sangsaka merah putih pun, seolah menjadi bukti bahwa masyarakat yang tergabung karena cangkruk'an ini juga memiliki rasa nasionalis yang tinggi terhadap bangsa Indonesia.

Melihat rasa nasionalis yang sangat tinggi dari gabungan element masyarakat ini, turut mengundang respon dari para jurnalist baik dari media cetak maupun elektronik untuk mengabadikan moment yang cukup jarang ditemui ini.

Hartono salah satu peserta upacara tersebut mengungkapkan bahwa keikutsertaannya pada acara upacara guna memperingati kemerdekaan RI yang ke 65 ini, tak lain untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam perang saat mempertahankan kemerdekaan RI.

''Apa yang kita lakukan saat ini, memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan yang gugur dalam medan saat membela negara. Tetapi, dengan mengikuti upacara ini, saya pribadi dan mungkin rekan-rekan lain yang mengikuti upacara ini akan selalu mengingat jasa para pahlawan dan tentunya juga menumbuhkan semangat juang mereka pada dirinya masing-masing''. Pungkas pria yang akrab di sapa Kang Har tersebut pada tim liputan Krisnahome.co.cc.

Setelah upacara berakhir dengan komando dari pemimpin upacara, acara dilanjutkan dengan membakar jagung dan ikan sembari menunggu waktu sahur tiba. (Naskah/Foto: Krisna Fajar P)